Friday, April 3, 2015

Next part of spring break: One day trip to Nagoya & Mie prefecture

Biarpun liburan musim semi segera menuju akhirnya, biarkanlah gw menulis perjalanan2 gw kali ini melihat Jepang sebagai turis yang kebanyakan wisata kuliner. Perjalanan yang gw ingin tulis di sini adalah perjalanan ke Nagoya dan Mie prefecture naik mobil serena. Ya sejak gw dapet SIM di Jepang gw pengen melihat Jepang dari kaca mobil. Karena cukup berbeda kalo lu naik kereta bawah tanah yang lu ga bisa liat apa2.

Berangkat dari Osaka jam 8 pagi, kita naik mobil menuju Nagoya. Sempet2 nyasar dikit karena GPS yang ada di mobil suka sedikit error dan karena kita udah kelaparan akhirnya kita pergi ke pemberhentian pertama yaitu 矢場とん (yabaton). Ini ada restoran yang awalnya berasal di 矢場町 (yaba town), Nagoya yang menyediakan pork cutlet dengan miso sauce. Salah satu makanan khas Nagoya selain hitsumabushi dan tebasaki. Ini adalah kali kedua gw makan yabaton di Nagoya, tapi yang spesial kali ini adalah gw pergi ke 本店 (honten: toko pertamanya) di yabacho.

Itu toko gw rasa awalnya ngga gede, karena satu lantainya emang kecil tp sekarang dia mungkin udah punya 7 lantai! Dan itu baru hontennya doank, belom cabang2nya yang ada banyak juga di nagoya. Ya memang segitu terkenalnya lah si yabaton ini. Dan yang lebih menariknya lagi adalah kalo ornamen gedung ini adalah semuanya gambar babi, dari wallpapernya, pernak-perniknya, dan hiasannya haha. Nice place to visit!


Ini adalah pintu gerbang si yabaton honten,
gedungnya kecil tapi bertingkat-tingkat
Salah satu menu teiban(menu utama) di yabaton.
Kekhasan dari menu ini adalah kalo minyak dari
dagingnya sudah dikeluarkan atau dikurangi.
Mereka sih bilangnya kalo mau sehat atau kalo lagi diet.
Namanya ひれとんかつ(hiretonkatsu) harga sekitar 1200 yen.








Selesai makan di sana kita pergi ke Nagoya city science museum, masuk harganya 200 yen. Di sana juga ada planetarium yang konon katanya (maksudnya gw denger dari temen gw) kalo planetariumnya terbesar di Jepang atau di dunia. Tp kita ngga masuk sana karena penuh dan sorenya kita mau ke tempat lain. Itu science museum mungkin ada 5 atau 6 tingkat yang setiap tingkatnya membahas mengenai suatu topik tertentu. Dari lantai awal kita liatin semua displaynya satu2 sampe lantai 3 atau 4 kepala gw udah mulai pusing haha. Tp ini merupakan salah satu hal yang baik karena dengan melihat ini anak2 akan suka dengan science. Gw juga masih suka sih ngeliatinnya hahaha. Berasa kayak praktikum fisika atau kimia tapi ga usah bikin laporan. Asik kan?

Tornado Lab: simulasi tornado buatan
Rangkaian sederhana pembangkit listrik tenaga air










Berlanjut dari science museum kita bergerak ke Mie prefecture, ke なばなの里 (nabana no sato atau nabana village) yang merupakan taman bunga. Gw aga lupa harga masuknya, tp seinget gw lumayan mahal mungkin sekitar 1600 yen yang di dalamnya ada tiket 1000 yen yang bisa dipakai di dalam taman (strategi pemaksaan penggunaan uang dalam taman haha). Waktu kita ke sana masih awal maret jadi yang mekar adalah bunga-bunga japanese plum (梅) yang ga kalah indah dari cherry blossoms atau yang orang sering bilang sakura. Di dalam taman juga ada taman bunga khusus yang ada di dalam ruangan. Karena waktu itu lagi hujan akhirnya kita pergi ke sana dan bikin foto bersama.

Gw di bawah bunga plum
Bersama teman gereja katolik

Dari situ kita pergi ke illumination (pertunjukan lampu) yang ada di sana. Sebenernya gw kurang demen ke illumination karena menurut gw ini aneh. Orang Jepang bilang mereka lagi krisis listrik karena PLTN nya dimatiin tp mereka tetep buang2 listrik di yang kayak beginian haha. Tp emang bagus sih, jadi ya gw nikmati aja deh

Panorama view of one of the illumination shows
Haha ya nabana no sato adalah tempat yang sangat bagus untuk nge-date. Karena udah malam kita bergerak ke tempat terakhir yang paling gw suka dari kebudayaan Jepang yaitu adalah onsen! Kita pergi ke Nagashima onsen. Harga masuk onsennya adalah 1000 yen. Oh ya yang belom tau onsen adalah natural hot spring yang kalo masuk kita harus telanjang bulat. Untuk di nagashima onsen ini kita bisa ke 露天風呂 (rotenburo: open air bath) jadi sambil berendam di air hangat karena masih bulan 3 dan udaranya masih dingin jadi sensasinya mantap banget sambil melihat air terjun di dalamnya. Saikou!

Gw kalo udah masuk onsen biasanya langsung ngantuk wkwk. Jadi temen gw yang bawa pulang mobilnya (thanks to abiel) dan ada banyak foto2 bagus yang diambil oleh temen gw juga (thanks to Jekson). Buat menutup post ini gw akan mencantum satu foto bahagia kami saat lihat illumination. (Di dalam onsen soalnya ga boleh foto2, lol)

Salam dari pelajar di Jepang buat temen2 di Indonesia!
 


Monday, March 2, 2015

Perjalanan ke Nagasaki: nama kota yg sering muncul di buku IPS pas gw SD

"Pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang dibom oleh Amerika yang merupakan peristiwa penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia." Gw masih inget kalimat serupa tertulis di buku IPS gw pas gw masih SD. Kota yang pas gw SD gw afalin sebatas nama supaya nilai IPS gw ga jelek-jelek amat, tanpa gw sadari sekitar 10 tahun kemudian gw benar-benar pijak dan lihat dengan mata kepala gw sendiri. Kota dengan sejuta kenangan mengenai kekelaman perang dunia kedua dan awal kehidupan negara ketiga di asia timur dan tenggara menjadi salah satu tempat tujuan liburan musim semi gw tahun ini. :D

Gw ga pernah punya rencana untuk mengunjungi kota ini sampai seorang teman Jepang gw mengajak gw untuk pergi ke sana sambil nemenin dia mengerjakan sesuatu di sana (special thanks to Yasushi Takashima). Dan berangkatlah gw ke kota bersejarah ini naik feri dari pelabuhan Osaka ke pelabuhan ShinMoji yang berada di Kyushu. Supaya lebih jelas gw taruh peta perjalanan gw supaya lebih seru haha.

Peta perjalanan feri dari Osaka ke Kyushu (名門大洋フェリー)
 Ini juga merupakan perjalanan pertama dalam seumur hidup gw menggunakan kapal feri. Jepang yang juga merupakan negara kepulauan sama seperti Indonesia, memiliki infrastruktur transportasi yang lengkap dan tertata rapi di udara, darat, dan laut. Di darat sepanjang pulau Honshu sampai kyushu kereta magnet shinkansen melintas dengan kecepatan sekitar 300 km/jam. Kali ini gw mencoba alat transportasi laut negeri sakura.

Alat transportasi laut menjadi sesuatu hal yang sangat penting bagi negara kepulauan. Dari segi kecepatan memang alat transportasi laut tidak bisa mengalahkan darat maupun udara, tp alat transportasi laut seperti feri memiliki keunggulan tersendiri, yaitu murah dan jumlah load beban yang bisa diterima sangat besar. Dan kali inipun gw dan temen gw memasukan sebuah mobil ke dalam feri buat dibawa jalan jalan di nagasaki. Pas mobilnya masuk feri serasa masuk ke dalam gundam, haha.

Perjalanan dari Osaka ke Shinmoji sekitar 500 km dan dengan feri memakan waktu sekitar 12 jam. Dibandingkan dengan bus malam yang juga merupakan transport yang sering digunakan di Jepang, gw lebih merekomendasikan feri karena fasilitasnya yang memungkinkan penumpangnya keluar dengan keadaan segar, karena di dalamnya tentu ada tempat tidur dan ofuro (tempat mandi khas orang jepang). Berikut gambar feri dan tempat tidur di dalamnya.

Feri yang berpindah setiap hari dari Osaka ke Kyushu
Tempat tidur kelas 2, kelas terbawah dalam feri
Perjalanan dari Osaka ke Kyushu kali ini tidak melewati samudra Pasifik melainkan lewat laut yang diapit oleh Honshu dan Shikoku, sehingga feri melawati 3 buah jembatan yang menghubungkan pulau-pulau tersebut. Mungkin kalo di Indo kayak jembatan Suramadu kali ya, biarpun juga gw belum pernah liat. Berikut gambar akashi kaikyou bridge (明石海峡大橋) yang pada peta gambar berada di paling kanan.

Akashi Kaikyou Bridge (明石海峡大橋): Jembatan yang menghubungkan Honshuu dan Awajishima (taken from ferry)

Kota nagasaki selain bersejarah memiliki ciri khas lain dengan kota kota lainnya di jepang. Selama periode Edo berlangsung di Jepang (periode dimana jepang menutup diri dari dunia luar), hanya kota Nagasaki lah yang terbuka untuk dunia luar Jepang. Sehingga banyak percampuran budaya yang terjadi di sini. Kita bisa melihat China Town di Nagasaki (hanya ada 3 China Town di Jepang: Yokohama, Kobe, dan Nagasaki), banyaknya gereja Katolik di sana karena Nagasaki juga merupakan pintu gerbang masuknya agama katolik di Jepang dan rumah-rumah peninggalan orang Portugis dan Belanda sehingga ketika kita berada di sana, kita merasakan suasana Jepang yang sedikit berbeda dibandingkan Tokyo maupun Osaka.

Perjalanan pertama gw di sana adalah nagasaki peace park dan nagasaki atomic bomb museum. Tempat-tempat ini mungkin adalah tempat paling bersejarah di Nagasaki karena museum ini didirikan di sekitar titik jatuhnya bom atom yang meledak pada 9 Agustus 1945 11:02 pagi. Tempat ini cukup membuat gw merinding dengan testimonial orang-orang yang selamat dari insiden tersebut yang terdapat dalam museum dan barang-barang peninggalan sejarah yang disimpan rapi di sana seperti jam dinding yang jarumnya berhenti pada pukul 11:02. Gw rasa pengalaman pahit yang dialami Jepang saat itu sudah cukup membuat Jepang mengalah tanpa syarat kepada Amerika dan tidak meneruskan kekuatan militernya hingga saat ini.

Nagasaki Atomic Bomb Museum
Titik jatuhnya bom atom Fat Man pada 9 Agustus 1945

Perjalanan kedua gw adalah menuju ke lantern festival yang diselenggarakan di sekitar China Town Nagasaki. Lantern festival ini diadakan untuk merayakan hari raya Imlek yang jatuh pada bulan februari kemarin. China Town di Nagasaki memang tidak sebesar dengan yang ada di Yokohama, tapi hiasan lampion yang bermacam-macam di sudut kota, membuat kita berasa di negeri tirai bambu. Tak lupa juga gw makan manjuu (bun/bakpao) rekomendasi teman gw hehe.

 
 


 Oh ya di Nagasaki tidak ada subway maupun kereta, namun di sana terdapat romendensha (路面電車) atau tram yang menjadi alat transportasi utama selain bus umum. Gw juga pernah naik hal yang serupa ketika berada di Sapporo, Hokkaidou tapi di sana masih terdapat subway karena Sapporo cukup besar.

Hari berikutnya gw jalan-jalan melihat gereja-gereja bersejarah yang ada di Nagasaki. Yang pertama adalah urakami cathedral (浦上天主堂). Gereja ini adalah gereja yang terdekat dengan hypocenter bom atom nagasaki (sekitar 400m). Gereja ini seperti biasa menyelenggarakan misa tetapi juga menjadi objek wisata bagi para turis yang datang ke nagasaki, sehingga orang non katolik juga banyak yang berkunjung untuk melihat gereja ini.

Gereja yang kedua adalah oura church (大浦天主堂) yang dianggap sebagai gereja tertua yang ada di Jepang. Gereja ini udah menjadi national treasure dan kayaknya udah ngga menyelenggarakan misa. Masuk ke sananya juga bayar, jadi sepertinya udah berubah jadi objek wisata.

Urakami Cathedral: gereja yang berada 400 m dr hypocenter bom atom
Langit sore dari Urakami Cathedral

Oura church: gereja tertua yang ada di Jepang

Bercampurnya budaya Jepang dengan negara lain di kota ini, menyebabkan makanan yang ada di sini juga beraneka ragam. Makanan yang terkenal dari Nagasaki adalah:
1. champon (ちゃんぽん): semacam bakmie yang dilengkapi dengan bermacam-macam sayur. Makanan ini berasal dari Tiongkok.
2. sara-udon (皿うどん): kalo ini semacam ifumie yang biasa kita temukan juga di chinese restaurant
3. sasebo burger: gw ga sempet makan ini, katanya burgernya gede banget kayak punya orang amerika. Tp gw malah makan burger ikan paus yang juga terkenal di Nagasaki.
4. Turkish rice (トルコライス): gw ga tau kenapa dinamakan Turkish rice, mungkin dulu bikinnya emang diajarin sama orang Turkey hihihi.
5. Nagasaki kakuni manjuu ( 角煮饅頭): ini adalah bakpau yang bentuknya seperti sandwich, jadi dagingnya terlihat dari luar seperti dijepit dengan roti.
6, Ikokkou: seperti bakpia pathuk, sedikit lebih besar, tetapi dalamnya kosong. Keras dan  gulanya terdapat di dinding dalam kue,

Turkish Rice: di atas nya pun ada tonkatsunya lol :p
Whale Cutlet Burger
Kakuni Manjuu
Ikokkou

 Sekian catatan perjalanan gw ke Nagasaki, kota yang entah mengapa masih nyantol di kepala gw sebagai afalan sejarah pas SD akhirnya bener gw lihat dengan mata kepala gw sendiri. Mungkin karena gw masih inget dengan kota ini akhirnya gw diizinkan untuk melihat keindahannya #takdir. Terima kasih dan sampai jumpa di post yang berikutnya.


Sunday, February 15, 2015

Pengalaman Ambil SIM di Jepang

Dalam 4 bulan terakhir ini gw sedang berusaha buat ambil SIM A (普通) di Osaka. Sebenernya gw ngga yang in urgent buat ambil SIM ini tapi berhubung gw masih kuliah dan belom masuk lab gw berusaha buat ngambil, siapa tahu gw butuh nanti. Dan ternyata ngambil SIM di sini itu ngga segampang yang gw bayangkan.

Gw ga punya pembanding untuk mengatakan ngambil sim di Jepang itu "sesusah itu" apa ngga (gw bukan WNI yang baik ternyata, lol). Tapi pas polisinya bilang "Anda Lulus" pas tes gw yang ke 4 gw pengen bener-bener pengen teriak di depan muka polisinya (sekaligus ninju) karena gw ngga nyangka bakal dapet SIM hari itu. Sekarang gw mengerti kenapa orang di Jepang bisa nyetir selayaknya orang beradab.

Mungkin buat kalian yang pernah ke Jepang, kalian tahu bagaimana orang Jepang menyetir. Maybe it's hard to compare to Indonesia because of the traffic volume, tapi yang lo perlu tahu di sini pejalan kaki adalah raja selama si pejalan berada di posisi yang benar: trotoar, zebra cross, dll. Pengendara mobil akan berhenti kalo ada pejalan kaki yang nyebrang di zebra cross (yang ngga berlampu merah) dan kalo memang sampe terjadi kesalahan ngga ada cerita kayak di indo kalo pengendara roda 2 pasti menang (ini cuma image gw aja sih, lol), si pejalan kaki lah yang benar, karena pengendara mobil harus ngecek sebelum mereka lewat zebra cross.

Let me describe a lil bit about the background of this story. Bagi orang Jepang, ambil SIM mobil itu bukanlah sesuatu hal yang murah. Kebanyakan dari mereka akan memilih masuk ke sekolah mengemudi yang sampai dengan mendapat itu SIM bakal abis kira2 sekitar 300.000 yen atau sekitar 30 jt rupiah. Sebenernya masuk ke sekolah mengemudi itu bukanlah sebuah kewajiban (setahu gw) tapi kalo lo ngga masuk sekolah mengemudi, lo ga bisa sembarangan latihan mobil di sembarang tempat dan buat nyewa tempat latihan itu juga ngga murah, sekitar 10.000 yen atau 1 jt rupiah buat 1 jam latihan tanpa pembimbing dan kalo mau pembimbing (guru) tambah sekitar 4000 yen lagi.

Buat yang ngga masuk sekolah mengemudi, dan pengen ngambil SIM lo bakal di tes sama polisi yang ngurus perizinan ini, kalo di Indo mungkin ini samsatnya dan this is hell. Ngga sembarang orang punya mental kuat buat masuk sini haha. Emang harganya ngga semahal dengan lo masuk sekolah mengemudi. Buat biaya prosedur dan tes pertama lo harus bayar kira2 10.000 yen dan kalo lo gagal lo harus bayar sekitar 4000 yen buat tes ulang (kalo lo mau haha). Kenapa gw bilang ini hell, karena emang buat lulusnya susah banget. Biasanya dari 30an orang yang di tes di satu hari, yang lulus itu sekitar 5 orangan (berdasarkan pengalaman gw 4 kali tes di sana dan cerita dari para senior). Dan kalo lo ngga lulus2 yang lu masuk lingkaran keluar duit yang ngga ada ujungnya, endless loop 4000 yen haha.

Kalo lo masuk sekolah mengemudi, lo ngga bakal perlu di tes ama polisi samsat ini. Lo bakal di tes oleh guru dari sekolah mengemudi ini dan kemungkinan lo gagal juga kecil asal lo ngga berkendara parah2 amat. Kalo menurut gw ini juga menjadi alasan kenapa orang Jepang lebih memilih untuk ke sekolah mengemudi daripada belajar sendiri dan di tes sama polisi samsat ini.

Jadi apa yang gw lakukan? Di sini itu ada sistem yang namanya 外面切り替え (gaimen kirikae) buat foreigner atau transferring your country license to japanese driving license gampangnya dan gw apply yang ini. Ada tes tertulis dan tes praktik secara garis besar (tentu ada tes mata dll). Tes tertulisnya ngga begitu sulit dan buat orang yang pernah tinggal di Jepang ngga akan terlalu sulit buat lulus tes ini. Tes prakteknya ini yang aduh2 bikin kepala gw sakit (mungkin karena di Indo juga gw nembak kali ya haha).

Ini dia peta tesnya.

Garis biru adalah garis untuk lo membiasakan diri dengan mobil. Garis merah adalah jalur penilaian. Startnya mulai dari kiri bawah pangkal garis biru.

Itu ada bekas bekas coretan gw mengenai apa yang harus dilakukan di setiap spot nya, Mungkin gw bisa jelasin sedikit spot2 yang cukup lucu buat di ceritain tapi ga cukup lucu kalo lo gagal gara2 ga ngelakuin ini.

1. 安全確認 anzen kakunin atau safety check
Sebelum lo masuk mobil, lo harus ngecek mobil lo dulu. lo harus liat bannya kempes atau ngga. Lo harus liat dibawah mobil lo ada kucing apa ngga (serius!). Lo harus liat kalo mobil lo parkir di tempat yang bener apa ngga. Paling ngga lo harus sekali muterin itu mobil. Yang paling bikin kesel itu lo harus memperagakannya secara pura2 hahaha. Mana ada sih orang yang mau naik mobil ngecek dulu di bawah mobilnya ada kucing apa ngga. Gw pernah denger pendapat si polisi mengenai ini. Dia bilang, "kalo di sini aja lo pada udah ngga ngikutin aturan di jalanan juga pasti kalian lebih ngasal lagi". Emang bener sih, dan gw menyetujui itu biarpun kesel. Ya jadi kalo lo ngga melakukan ini selesai lah 4000 yen lo tanpa lo naik ke mobil tes.

2. 止まれ tomare atau stop sign
Di Indo juga ada stop sign yang warnanya merah atau tanda stop yang di cat di permukaan jalan. Apa yang gw lakukan kalo di Indo adalah menganggapnya sebagai sign yang berlebih. Nobody follows! Kalo lo ikutin pun dengan macetnya di jakarta lo pasti udah di tintinin (klakson maksud gw haha) dari belakang yang membuat lo tambah kesel. Gw ga bilang di Jepang orang juga bener2 stop liat sign ini. Tapi mereka paling ngga melambat ketika melihat sign ini. Dan kalo di test ini lo ngga berhenti (3 detik, so it's a total stop) atau berhenti melewati garis batas putih di depannya. Selesai lah 4000 yen lo.

3. selebihnya adalah hal2 detil yang emang kalo lo pikir2 lagi sebenernya emang harus dilakukan tapi kecil untuk kemungkinannya untuk dilakukan saat mengemudi. Kayak nengok kebelakang saat ganti jalur, liat kiri kanan di perempatan dll.

Sekarang gw mau cerita 3 kegagalan gw saat di samsat Jepang ini yang bikin gw kesel.

1. Tes pertama gw gagal karena gw ngga liat kiri kanan pas di perempatan utama yang ada di peta. Padahal itu IJO bro IJO! haha okay karena hari itu gw masih hari pertama gw masih manggut2 pas dibilangin sama polisinya. Sisanya dia bilang belokan kiri gw kurang kecil (melebar) dan gw ngga liat ke kanan pas mau belok kiri (omg).

2. 4000 yen kedua gw menghilang karena roda belakang gw naik ke trotoar pas keluar dari S-curve. I never expected I would fail at that spot. Fyi, s curve itu adalah jalan s yang kecil hanya cukup satu mobil dan trotoarnya itu sangat pendek. Jadi kalo ngga hati2 pas keluar dari jalan kecil itu dan roda belakang lo naik. Menguap lah 4000 lo. Sisanya dia bilang gw ngga nengok ke belakang pas gw mundur, yang ini masih oke lah (but u know there was no body except me taking the test, lol). Sebenernya di bandingin S-curve ada yang namanya crank, itu yang kalo di peta di sampingnya s-curve yang kayak letter L. Itu jalan kecil yang samping2 nya ada pole bermagnet. Jadi kalo mobil lo sampe nyentuh polenya, polenya akan bergerak dan menguap juga lah duit lo.

3. Ini yang paling gw ga suka dari 2 cara lainnya duit gw menguap. The proctor just simply said, "u are not staying on the (really) left". Wtf man?! Di indo pun kita nyetir di kiri! (Ya maksud dia bener2 di kiri). Pas dia nyetop gw di sini gw udah kesel banget. Dia bilang ke gw tau ngga alasannya, dan karena bener2 kesel gw udah ga mau jawab haha. Ya, di jepang pengendara sepeda emang banyak dan kalo lo ngga bener2 nyetir di kiri, memungkinkan pesepeda dan pengendara motor buat nyelip di kiri. Tp hari itu gw aware untuk nyetir di sebelah kiri dan begitulah kegagalan gw yang terakhir.

Sebenernya gw lulus 4 kali itu udah cukup cepet (spesial thanks to my Senior: Yusri Lukman for the guidance) karena ada di sana yang belom lulus 19 kali katanya haha. Maybe he doesnt know how to drive and doesnt have any ideas what kind of test he is into.

Jujur kalo gw cuma mikir kepentingan pribadi dan sesaat, sistem samsat di Indo yang bisa tempel tempelan itu adalah sistem yang patut dipelihara. Tapi kalo berpikir sebagai WNI (ceilah) dan berpikir panjang udah saatnya kita sebagai warga Indo buat berbenah di sana sini. Gw ngerti masalah yang ada di Indo emang ngga sesederhana hanya mengenai perizinan SIM, ini udah menyangkut budaya, sosial. dll dkk dst dan apa pun juga terserah lo. Tp mungkin ada hal-hal kecil yang kita bisa lakukan dengan memusnahkan (manusia kayak gw, eh) kebiasaan tempel menempel tembak menembak dll. Gw tau sekecil ini pun akan susah dilakukan karena buat warga keturunan (C*na) Tionghoa kayak gw ada stigma kalo kami ngga akan lulus kalo ngga ada pelurunya itu haha.

Dan di sini itu lo kalo baru dapet sim, lo harus tempel di bagian depan dan belakang mobil dengan sticker beginner driver yang tandanya kayak ini selama setahun.


Ini adalah masa pendidikan di mana di SIM lo terdapat 3 poin. Kalo lo melanggar dan habis poin lo, lo harus ikut kelas pengajaran untuk mengemudi dan harganya kira2 14000 yen. Dan lo akan dapat 3 poin lagi. Dan kalo abis lagi, di tes lagi deh lo sama om om polisi samsat yang mukanya nyebelin itu haha. We can go back to the endless loop guys.

Well ini sebagian kecil pengalaman gw di negara orang yang bisa gw bagikan ke temen2. Semoga memberi sedikit pencerahan ke temen2 kalo membangun sebuah sistem transportasi kayak di negara2 maju itu bukan cuma sekedar bangun itu bangun ini, kurang itu kurang ini. Indonesia itu bukan lah sekedar gedung sekedar fasilitas megah atau apapun, Indonesia itu adalah orangnya (mental orangnya) dan orangnya itu adalah kita2 juga. Dan proses itu sudah dimulai dari pemberian SIM atau mungkin sebelumnya.

Please leave any comments daannnn sekian dan terima kasih!

Useful links:
1. General Info from Osaka City
2. Guide Book

Thursday, May 8, 2014

Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura

Halo temen-temen semua, di sini saya ingin memperkenalkan buku yang dibuat oleh anggota PPI-ON (Perhimpunan Pelajar Indonesia - Osaka Nara) yang merupakan bagian dari PPI Jepang. Buku ini berjudul: "Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura" yang mengisahkan perjuangan teman-teman kita dalam berusaha melanjutkan pendidikan mereka di Jepang. Usaha mencara beasiswa, panjatan doa, segala halangan dan rintangannya. Buku ini diharapkan bisa menginspirasi teman-teman yang ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi terutama ke negeri sakura.

Untuk membantu memperkenalkan buku ini, teman-teman dari PPI-ON sudah membuatkan video mengenai buku ini:


Keuntungan yang didapatkan dari buku ini juga akan disumbangkan kepada TIF (Taiyou Indonesia Foundation) yang merupakan organisasi yang membantu adik-adik kita di Indonesia yang kurang mampu untuk membiayai pendidikan dan memperbaiki sekolah-sekolah di daerah terpencil di Indonesia.

Buku ini bisa didapatkan dengan mudah di toko buku di Indonesia. Jadi tunggu apa lagi? Dengan inspirasi, memberi sejuta arti :D.